ANGAN-ANGAN ORANG YANG MAU MENINGGAL DAN YANG SUDAH MENINGGAL
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ
أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا
رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي
تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا
اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ …
Pertama-tama, khatib
mengajak semua jamaah, hendaklah kita senantiasa berusaha meningkatkan
ketaqwaan kita kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala disetiap waktu
yang masih Allâh Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada kita
semua. Karena taqwa merupakan bekal terbaik kita menghadap Allâh Subhanahu
wa Ta’ala dan tidak ada seorang pun di antara kita yang tahu, kapan
dia dipanggil menghadap Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Maka marilah
kesempatan yang masih diberikan ini kita manfaat sebaik mungkin untuk
mempersiapkan bekal terbaik demi meraih kebahagian abadi di akhirat.
Jamaah shalat Jumat
yang di muliakan Allâh Subhanahu wa Ta’ala.
Setiap manusia di
dunia ini memiliki angan-angan yang ingin direalisasikan menjadi sebuah
kenyataan. Kebanyakan angan-angan itu tertuju pada meraih jabatan tinggi, harta
berlimpah, istri cantik jelita nan mempesona, rumah luas dengan fasilitas
lengkap nan mewah dan berbagai kenikmatan dunia lainnya yang diimpikan banyak
orang.
Di sisi lain, ada si
miskin yang ingin menjadi kaya raya; Ada si sakit yang ingin segera sembuh dari
sakitnya dan bisa kembali menikmati dunia; Dan ada si kaya yang sangat benci
kemiskinan tapi terus merasa dirinya miskin, sehingga semangatnya untuk
menambah kekayaan tidak pernah rapuh.
Memang benar apa yang
di sabdakan Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa
angan-angan manusia di dunia tidak akan pernah habis sampai mereka masuk ke
dalam kubur,
لَوْ أَنَّ لِابْنِ
آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ وَلَنْ يَمْلَأَ
فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
Seandainya seseorang
memiliki satu lembah emas, niscaya dia ingin memiliki dua lembah emas lagi, dan
tidak ada yang bisa memenuhi mulutnya kecuali debu (tidak ada yang bisa
menghentikan keinginannya kecuali kematian) dan Allâh menerima taubat orang
yang bertaubat.[1]
Namun
bagaimanapun angan-angan di dunia ini selama masih ada
kesempatan, maka masih bisa di usahakan dan masih ada kemungkinan menjadi
sebuah kenyataan. Yakni dengan melakukan sebab sebab yang sudah di tetapkan
oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala.
Pada kesempatan ini,
khatib tak hendak mengajak jamaah sekalian untuk memiliki angan-angan dunia
yang muluk-muluk, tapi khatib hendak mengajak agar kita merenungi angan-angan sebagian
orang yang sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk merealisasikannya.
Angan-angan mereka sudah terputuskan dari sebab. Mereka adalah orang orang yang
sudah meninggal dunia.
Mungkin ada yang
bertanya, apa yang menjadi angan-angan mereka? Setelah
melihat kenikmatan atau siksaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala terpampang
di mata mereka? Masihkan mereka menginginkan kenikmatan dunia yang telah banyak
menyita perhatian manusia?
Kaum Muslimin, rahimakumullâh.
Orang-orang yang sudah
meninggal dunia itu bermacam-macam, ada yang baik dan ada pula yang buruk; Ada
yang shalih dan adapula sebaliknya; Ada yang ditangisi kematian oleh manusia
dan ada pula yang diharapkan kematiannya. Masing-masing orang ini memiliki
angan-angan yang berbeda. Angan-angan mereka ini telah dijelaskan oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga oleh Allah Subhanahu
wa Ta’ala, misalnya:
Pertama; Orang-orang shalih ingin segera di bawa ke
kuburannya setelah meninggalnya:
Disebutkan dalam Shahîh
al-Bukhâri dari hadits Abi Sa’îd al-Khudri radhiallahu ‘anhu,
إِذَا وُضِعَتْ
الْجِنَازَةُ فَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ فَإِنْ كَانَتْ
صَالِحَةً قَالَتْ قَدِّمُونِي قَدِّمُونِي وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ
قَالَتْ يَا وَيْلَهَا أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ
إِلَّا الْإِنْسَانَ وَلَوْ سَمِعَهَا الْإِنْسَانُ لَصَعِقَ
Jika jenazah
diletakkan lalu dibawa oleh para laki-laki di atas pundak mereka, maka jika
jenazah tersebut termasuk orang shalih (semasa hidupnya) maka dia berkata,
“Bersegeralah kalian (membawa aku)!” Jika ia bukan orang shalih, dia akan
berkata, “Celaka, kemana mereka hendak membawanya ?” Jeritan jenazah itu akan
didengar oleh setiap makhluk kecuali manusia. Seandainya manusia bisa
mendengarnya, tentu mereka akan pingsan.[2]
Kedua; Orang-orang berdoa agar kiamat di
percepat
Disebutkan dalam
hadits yang panjang yang dikeluarkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya
bahwa ketika seorang di dalam kubur bisa menjawab pertanyaan dua malaikat
kemudian datang kabar gembira dari Allâh Subhanahu wa Ta’ala bahwa
dia termasuk penghuni surga, maka hamba tersebut memohon agar hari kiamat
dipercepat kedatangannya.[3]
Ini adalah angan-angan
orang shalih setelah melihat tempatnya di surga, padahal hari kiamat adalah
hari yang tersulit dan terberat bagi manusia. Ini sangat berbeda dengan kaum
munafik dan orang orang kafir. Mereka memohon kepada Allâh Subhanahu wa
Ta’ala agar hari kiamat tidak datang, padahal di dalam kubur mereka
mendapatkan siksa yang sangat pedih. Namun karena mereka tahu bahwa siksa di
neraka itu jauh lebih menyakitkan dan lebih pedih, [4] sehingga mereka
lebih memilih tetap disiksa di dalam kuburnya.
Kaum Muslimin, rahimakumullâh
Ketiga; Angan-angan orang yang mati syahid
Shahabat Anas bin
Mâlik radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasûlullâh shallallahu
‘alaihi wa sallam sabda beliau yang berbunyi,
مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ
الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ
مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا
فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنَ الْكَرَامَةِ
Tidak ada seorangpun
yang masuk surga kemudian ingin kembali ke dunia kecuali orang yang mati
syahid, dan dia tidak menginginkan apapun di dunia kecuali mati syahid. Dia
berangan-angan untuk kembali ke dunia kemudian terbunuh sebanyak sepuluh kali,
ini di sebabkan oleh kemuliaan (keutamaan mati syahid) yang dia saksikan.[5]
Inilah sebagian dari
angan-angan orang yang telah melihat kemuliannya di sisi Allâh Subhanahu
wa Ta’ala. Meski ingin kembali ke dunia, namun angan-angan mereka tidak ada
hubungannya dengan dunia dan kenikmatannya sedikitpun. Mereka ingin kembali
untuk menambah amalan agar kemuliaan mereka bertambah di sisi AllâhSubhanahu
wa Ta’ala.
Kaum Muslimin, rahimakumullâh
Demikianlah beberapa angan-angan
orang-orang shalih yang sudah meninggal dunia, lalu bagaimana
angan-angan orang yang lalai semasa hidup mereka di dunia? Di antara
angan-angan mereka adalah:
Pertama, Shalat dua rakaat
Mereka ingin kembali
hidup di dunia kemudian melaksanakan shalat sunat dua rakaat adalah di antara angan-angan
orang yang sudah meninggal dunia yang dahulunya sering di sibukkan
oleh dunia, sehingga sering meninggalkannya. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu
‘anhu,
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ
مَرَّ بِقَبْرٍ فَقَالَ : مَنْ صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ؟ فَقَالُوْا: فُلاَنُ،
فَقَالَ : رَكْعَتَانِ أَحَبَّ إِلَى هَذَا مِنْ بَقِيَّةِ دُنْيَاكُمْ
Rasûlullâh
melewati sebuah kuburan, kemudian bertanya, “Siapa penghuni kuburan ini
?” Mereka menjawab, “Ini kuburan si Fulan”, lantas Rasûlullâh shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua rakaat lebih dia cintai daripada dunia
kalian.”[6]
Dalam riwayat lain di
sebutkan,
رَكْعَتَانِ
خَفِيْفَتَانِ مِمَّا تَحْقِرُوْنَ وَتنفلون، يَزِيْدُهُمَا هَذَا فِي عَمَلِهِ
أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ بَقِيَّةِ دُنْيَاكُمْ
Shalat sunnah dua
rakaat yang ringan yang kalian remehkan, kemudian ditambahkan pada amalan orang
ini lebih dia cintai dari pada dunia kalian.[7]
Kaum Muslimin, rahimakumullâh
Kedua, yaitu mengeluarkan sedekah.
Seorang yang sudah
meninggal dunia berangan-angan untuk hidup kembali dan mengeluarkan sedekah dan
menjadi orang shaleh, sebagaimana di ceritakan oleh Allâh dalam Alquran (yang
artinya),
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن
ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٩
وَأَنفِقُواْ
مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ
رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ
١٠
Dan belanjakanlah
sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian
kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Ya Rabb-ku, mengapa
Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang
menyebabkan aku dapat bersedekah dan Aku termasuk orang-orang yang shaleh ?” (QS. Al-Munafiqun/63: 10)
Berkata Ibnu Katsir rahimahullah,
“Setiap orang yang lalai (di masa hidupnya) pasti akan menyesal di saat
nyawanya akan dicabut. Ia memohon agar umurnya di perpanjang walau hanya sesaat
untuk melaksakan amal shaleh yang selama ini ia tinggalkan.“[8]
Ketiga, melaksakan amal shaleh:
Angan-angan terbesar
orang yang sudah meninggal dunia adalah bisa hidup kembali dan melaksakan amal
shaleh,
حَتَّى إِذَا جَآءَ
أَحَدَهُمُ الْمَوْتَ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّيٓ
أَعۡمَلُ صَٰلِحٗا فِيمَا تَرَكۡتُۚ كَلَّآۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَاۖ
وَمِن وَرَآئِهِم بَرۡزَخٌ إِلَىٰ يَوۡمِ يُبۡعَثُونَ ١٠٠.
(Demikianlah keadaan
orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari
mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat
amal yang shaleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya
itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding
sampai hari mereka dibangkitkan (QS. al-Mukminun/23:
99-100)
Kaum Muslimin, rahimakumullâh
Inilah keadaan yang di alami oleh orang orang kuffar dan orang yang lalai dari perintah-perintah Allâh Subhanahu wa Ta’ala sewaktu masih hidup di dunia. Saat kematian menjemput barulah ia sadar dan memohon kepada AllâhSubhanahu wa Ta’ala untuk di tangguhkan kematiannya walaupun hanya sesaat agar ada kesempatan untuk beramal.
Tapi tentu, angan-angan ini tetap hanya sebatas angan-angan yang tidak akan mungkin di wujudkan, karena AllâhSubhanahu wa Ta’ala telah menetapkan orang yang sudah meninggal tidak akan di kembalikan lagi ke dunia.
Maka sudah sepantasnya bagi kita yang masih berada di negeri angan-angan untuk melaksanakan angan-angan yang berupa keinginan untuk menambah dan memperbaiki amal, sebagai bekal untuk bertemu dengan AllâhSubhanahu wa Ta’ala.
Ibrahim bin Yazid al-Abdi rahimahullah mengatakan, “Saya di datangi Riyah al-Qaisi, kemudian mengatakan, ‘Wahai Abu Ishaq, mari kita menengok para penghuni akhirat, dan memperbaharui janji kita di dekat mereka!’ Kemudian kami berangkat. Lalu dia mendatangi kuburan dan kami duduk di dekat sebagian dari kubur itu. Dia berkata, ‘Wahai Abu Ishaq, kira-kira apa yang menjadi angan-angan mereka seandainya di katakan kepada mereka, berangan-anganlah ?’
Aku menjawab, “Demi Allâh mereka akan berharap di kembalikan ke dunia kemudian menikmati bahagianya taat kepada Allâh dan berusaha memperbaiki diri.”
Dia mengatakan, ‘Inilah kita (masih hidup), kemudian dia bangkit dan setelah itu dia semakin semangat beribadah, kemudian tidak beberapa lama dia meninggal dunia.”[9]
Berkata Muhammad bin Umairah rahimahullah, “Seandainya seorang hamba sujud kepada Allâh dari semenjak di lahirkan sampai tua sebagai bentuk ketaatannya kepada Allâh, niscaya di hari kiamat dia akan mengganggap amalan itu sangat sedikit, dia berangan-angan untuk di kembalikan ke dunia dan bisa menambah pahala dan ganjarannya dari Allâh.”[10]
أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH JUMAT KEDUA
الْحَمْدُ للهِ عَلَى
إِحْسَانِهِ وَ الشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ وَ أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ عَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أما بعد:
قَالَ تَعَالَى:
يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ
وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن
يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ
عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى
رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ،
يَا أَيُّهاَ
الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا
تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا
صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ
مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ
الدَّعَوَاتِ.
اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ،
وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ
أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا
يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ
الصَّلاَةَ.
Sumber: khutbahjumat.com
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
"Bicara Yang Baik atau Diam"