Akhlak Tercela: Tergesa-Gesa
Agama Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna karena Islam
mengajarkan seluruh aspek-aspek kehidupan manusia, dari hal yang paling penting
sampai hal yang sering dianggap sepele oleh kebanyakan manusia. Tidaklah satu
di antara kita menyebutkan satu perkara kecuali pasti telah dijelaskan oleh
syariat Islam yang mulia ini.
Selain itu, agama Islam juga merupakan agama yang indah. Syariatnya
mengajarkan kedamaian kepada umatnya dan memotivasi pemeluknya untuk memperindah
akhlaknya. Tidak ada satu akhlak baik pun di muka bumi ini, kecuali pasti telah
diperintahkan dan dicontohkan langsung oleh manusia terbaik di muka bumi,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan tidak ada satu akhlak
buruk pun di muka bumi ini, kecuali pasti telah diperingatkan dan dijauhi oleh
kekasih kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Itulah agama Islam. Agama yang umatnya tidak akan merugi
selama-selamanya jika bisa melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan
Sang Pemilik Syariat ini, Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Dan salah satu akhlak tercela yang ada di muka bumi ini, yang telah
diperingatkan oleh suri teladan umat Islam, Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam, adalah tergesa-gesa.
Makna “tergesa-gesa”
Tergesa-gesa dalam bahasa Arab adalah isti’jal, ‘ajalah, dan tasarru’.
Yang keseluruhannya memiliki makna yang sama. Dan lawan kata dari isti’jal adalah anaah dan tatsabbut.
Yang artinya adalah pelan-pelan, dan tidak terburu-buru.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitabnya Ar-Ruh bahwa
tergesa-gesa adalah keinginan untuk mendapatkan sesuatu sebelum tiba waktunya
yang disebabkan oleh besarnya keinginannya terhadap sesuatu tersebut, seperti
halnya orang yang memanen buah sebelum datang waktu panennya.
Bukti tentang tercelanya sifat tergesa-gesa
Syariat Islam mencela sifat ini dan melarang pemeluknya untuk
memiliki sifat tersebut, sebagaimana Islam juga mencela dan memperingatkan kaum
muslimin dari sifat malas dan berlambat-lambat dalam sesuatu.
Berikut ini, akan dijelaskan bagaimana Alquran, As-Sunnah, dan
para ulama mencela
dan memperingatkan akan sifat ini.
Dalil Alquran
Di dalam Alquran terdapat peringatan dari Allah Ta’ala kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar tidak terburu-buru dalam
membaca Alquran. Yaitu yang terdapat dalam surat Al-Qiyamah ayat 16-19:
{ لَا
تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ (16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ
وَقُرْآنَهُ (17) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ (18) ثُمَّ إِنَّ
عَلَيْنَا بَيَانَهُ (19) }
Artinya: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Alquran
karena hendak cepat-cepat (menguasai)-nya. Sesungguhnya atas tanggungan
Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila
Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian,
sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya”.
Pada waktu itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat
bersemangat untuk menghafal ayat yang diturunkan melalui malaikat Jibril
‘alaihissalam kepadanya, sehingga beliau saling mendahului bacaannya
Jibril ‘alaihissalam. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memperhatikan dan
mendengarkan apa yang dibacakan Jibril kepadanya. Karena Allah ‘Azza wa
Jalla telah menjanjikan kepadanya bahwa beliau akan dimudahkan dalam
menghafal dan mengamalkannya. Dan Allah ‘Azza wa Jalla berjanji
memberikan penjelasan terhadap apa yang dibacakan Jibril untuknya tersebut.
Di dalam Alquran juga terdapat ayat yang menyifati manusia dengan
sifat tergesa-gesa, sehingga menyebabkan manusia itu mendoakan keburukan bagi
dirinya sendiri di saat kondisi marah sebagaimana dia mendoakan kebaikan untuk
dirinya sendiri. Yaitu yang terdapat pada surat Al-Isra’ ayat 11:
وَيَدْعُ
الإنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الإنْسَانُ عَجُولا
Artinya: “Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia
berdoa untuk kebaikan. Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa.”
Faktor penyebab manusia melakukan hal tersebut adalah kekhawatiran,
ketergesa-gesaan, dan sedikitnya kesabaran yang
ada padanya. Atau bisa juga makna dari ayat di atas adalah manusia yang
berlebih-lebihan dalam meminta sesuatu dalam doa yang dia yakini merupakan yang
terbaik untuknya. Sedangkan pada hakikatnya hal itu adalah sebab kebinasaan dan
keburukan baginya dikarenakan kebodohannya akan keadaan yang sebenarnya. Hal
ini hanyalah terjadi karena sifat ketergesa-gesaan dan sudut pandangnya yang
sempit terhadap sesuatu.
Dalil As-Sunnah
Sesungguhnya lemahnya jiwa ketika menghadapi musibah dan ketika
harus bersabar di dalamnya, serta terburu-buru untuk segera mendapatkan
kebaikan, itu semua dapat menyebabkan seseorang tertimpa keputusasaan. Terlebih
lagi jika hal itu semua terjadi dalam jangka waktu yang lama dan beratnya ujian
yang menimpa.
Hal ini telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang
hamba akan senantiasa dikabulkan doanya oleh Allah Jalla wa ‘Ala selama
dia tidak berdoa yang mengandung kezaliman, tidak memutuskan tali silaturahmi,
dan tidak tergesa-gesa. Kemudian ada sahabat yang bertanya, “Apa yang dimaksud
tergesa-gesa di sini, wahai Rasulullah?” Lalu beliau menjawab, “Aku telah
berdoa, aku telah berdoa, tetapi mengapa aku tidak melihat tanda-tanda doaku
dikabulkan? Sehingga dia lelah dalam berdoa dan meninggalkan doanya tersebut”
(HR. Muslim)
Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata, “Orang yang
berkata, ‘Aku telah berdoa, akan tetapi doaku tidak kunjung dikabulkan,’ lalu
meninggalkan doanya karena berputus asa dari rahmat Allah berupa
mengungkit-ungkitnya di hadapan Allah bahwa dia telah banyak berdoa kepada-Nya,
sejatinya adalah orang yang bodoh akan bentuk pengabulan Allah terhadap doanya
tersebut. Dia mengira bahwa bentuk pertolongan Allah kepadanya dengan diberikan
apa yang dia minta, padahal Allah mengetahui apa yang dia minta itu adalah
keburukan baginya.”
Syaikh Utsaimin rahimahullahu berkata dalam kitabnya, Syarh
Riyadhus Shalihin ketika menjelaskan hadis ini, “Tidaklah Allah Subhanahu
wa Ta’ala menghalangimu dari terkabulnya doa kecuali karena ada hikmah di
balik semua itu, atau karena adanya faktor penghalang dari terkabulnya doa
tesebut. Akan tetapi, jika kamu berdoa kepada Allah, maka berdoalah dengan
penuh keyakinan dan rasa harap yang besar bahwa Dia akan mengabulkan doamu
tersebut. Teruslah berdoa sampai Allah mewujudkan apa yang kamu inginkan. Dan
jika Dia belum mewujudkan apa yang kamu inginkan, maka ketahuilah bahwa Dia
menghindarkan dirimu dari banyaknya bahaya yang tidak kamu ketahui, atau doa
tersebut akan disimpan oleh-Nya untukmu di hari kiamat nanti. Maka dari itu,
janganlah kamu berputus asa dan jangan berletih dalam berdoa. Teruslah berdoa
karena doa adalah ibadah. Dan perbanyaklah doa, maka Allah akan mengabulkan
doamu. Jika belum dikabulkan, maka jangan lelah dari doamu dan janganlah kamu
berburuk sangka kepada Allah. Karena sejatinya Allah Maha Bijaksana. Allah Tabaraka
wa Ta’alaberfirman pada surat Al-Baqarah ayat 216 yang artinya, “…Boleh jadi
kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu
menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu
tidak mengetahui”.
Perkataan para ulama
ذو النون يقول:
(أربع خلال لها ثمرة: العجلة، والعجب، واللجاجة، والشره، فثمرة العجلة الندامة،
وثمرة العجب البغض، وثمرة اللجاجة الحيرة، وثمرة الشره الفاقة(
Dzun Nun (Tsauban bin Ibrahim) rahimahullahu berkata,
“Ada empat perkara buruk yang menghasilkan buah: tergesa-gesa yang buahnya
adalah penyesalan, kagum pada dirinya sendiri yang buahnya adalah kebencian,
keras kepala yang buahnya adalah kebingungan, dan rakus yang buahnya adalah
kemiskinan”.
Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, “Sifat tergesa-gesa
adalah dari setan. Sejatinya sifat tergesa-gesa juga merupakan sikap gegabah,
kurang berpikir dan berhati-hati dalam bertindak. Yang mana sifat ini
menghalangi pelakunya dari ketenangan dan kewibawaan. Dan menjadikan pelakunya
memiliki sifat menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dan mendekatkan
pelakunya kepada berbagai macam keburukan, dan menjauhkannya dari berbagai
macam kebaikan. Dia adalah temannya penyesalan. Dan katakanlah, bahwa siapa
saja yang tergesa-gesa maka dia akan menyesal”.
Faktor penyebab munculnya sifat ini
Ketergesa-gesaan dalam diri manusia muncul karena hasil dari
berkumpulnya faktor-faktor berikut ini:
Adanya salah satu pendorong dalam diri seseorang untuk mewujudkan
hal yang diinginkannya
Tidak adanya cara pandang atau pemikiran yang menyeluruh terhadap
suatu perkara
Dan faktor utama munculnya sifat yang menyebabkan manusia terjatuh
pada kesalahan ini adalah setan, musuh terbesar manusia. Dan hal ini telah
dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam
hadisnya yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,
bahwa beliau bersabda, “Ketenangan itu datangnya dari Allah, sedangkan
ketergesa-gesaan itu datangnya dari setan” (Hadis ini dinilai hasan oleh syekh
Al-Albani dalam kitabnyaShahihul Jaami’)
Itulah beberapa celaan dan peringatan terhadap salah satu sifat
tercela ini, yang terdapat di dalam Alquran, hadis, dan juga perkataan para
ulama. Sebenarnya masih banyak lagi celaan dan peringatan terhadapnya, baik itu
dari Alquran, hadis, maupun perkataan salaf saleh yang tidak bisa disebutkan
secara keseluruhan.
Dan setelah kita mengetahui tentang tercelanya sifat ini dan
buruknya dampak yang diakibatkan dari sifat ini, maka hendaknya kita sebagai
seorang muslim yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya untuk menjauhi sifat
tersebut dan berusaha semaksimal mungkin untuk berakhlak sebagaimana Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam berakhlak. Dan jadikanlah beliau adalah satu-satunya
manusia di muka bumi ini yang kita jadikan contoh dan teladan dalam segala aspek
kehidupan tanpa terkecuali.
Semoga Allah Jalla wa ‘Ala mengumpulkan kita dengan
beliau kelak di surga-Nya nanti. Amin.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Referensi
Ar ruuh, Ibnul Qoyyim al Jauziyyah
Qowa’id muhimmah fil amri bil ma’ruf wan nahyi ‘anil munkar ‘ala
dhouil kitaabi was sunnah, Dr. hamud bin Ahmad ar Ruhaili
Aisaarut Tafaasiir, As’ad humidi
Manhajir Rasuul fii Tashiihil Akhto’, Ali bin Nayif asy
Syahuud
Mausu’atul akhlakil islamiyyah,
Syarh riyadhus Sholihin, Syaikh Sholih al ‘Utsaimin
—
Penulis: Winning Son Ashari
Murajaah: Ust. Suhuf Subhan, M.Pd.I
Artikel Muslim.Or.Id
Akhlak Tercela: Tergesa-Gesa
Agama Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna karena Islam
mengajarkan seluruh aspek-aspek kehidupan manusia, dari hal yang paling penting
sampai hal yang sering dianggap sepele oleh kebanyakan manusia. Tidaklah satu
di antara kita menyebutkan satu perkara kecuali pasti telah dijelaskan oleh
syariat Islam yang mulia ini.
Selain itu, agama Islam juga merupakan agama yang indah. Syariatnya
mengajarkan kedamaian kepada umatnya dan memotivasi pemeluknya untuk memperindah
akhlaknya. Tidak ada satu akhlak baik pun di muka bumi ini, kecuali pasti telah
diperintahkan dan dicontohkan langsung oleh manusia terbaik di muka bumi,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan tidak ada satu akhlak
buruk pun di muka bumi ini, kecuali pasti telah diperingatkan dan dijauhi oleh
kekasih kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Itulah agama Islam. Agama yang umatnya tidak akan merugi
selama-selamanya jika bisa melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangan
Sang Pemilik Syariat ini, Allah Tabaraka wa Ta’ala.
Dan salah satu akhlak tercela yang ada di muka bumi ini, yang telah
diperingatkan oleh suri teladan umat Islam, Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam, adalah tergesa-gesa.
Makna “tergesa-gesa”
Tergesa-gesa dalam bahasa Arab adalah isti’jal, ‘ajalah, dan tasarru’.
Yang keseluruhannya memiliki makna yang sama. Dan lawan kata dari isti’jal adalah anaah dan tatsabbut.
Yang artinya adalah pelan-pelan, dan tidak terburu-buru.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam kitabnya Ar-Ruh bahwa
tergesa-gesa adalah keinginan untuk mendapatkan sesuatu sebelum tiba waktunya
yang disebabkan oleh besarnya keinginannya terhadap sesuatu tersebut, seperti
halnya orang yang memanen buah sebelum datang waktu panennya.
Bukti tentang tercelanya sifat tergesa-gesa
Syariat Islam mencela sifat ini dan melarang pemeluknya untuk
memiliki sifat tersebut, sebagaimana Islam juga mencela dan memperingatkan kaum
muslimin dari sifat malas dan berlambat-lambat dalam sesuatu.
Berikut ini, akan dijelaskan bagaimana Alquran, As-Sunnah, dan
para ulama mencela
dan memperingatkan akan sifat ini.
Dalil Alquran
Di dalam Alquran terdapat peringatan dari Allah Ta’ala kepada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar tidak terburu-buru dalam
membaca Alquran. Yaitu yang terdapat dalam surat Al-Qiyamah ayat 16-19:
{ لَا
تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ (16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ
وَقُرْآنَهُ (17) فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ (18) ثُمَّ إِنَّ
عَلَيْنَا بَيَانَهُ (19) }
Artinya: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Alquran
karena hendak cepat-cepat (menguasai)-nya. Sesungguhnya atas tanggungan
Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila
Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian,
sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah penjelasannya”.
Pada waktu itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat
bersemangat untuk menghafal ayat yang diturunkan melalui malaikat Jibril
‘alaihissalam kepadanya, sehingga beliau saling mendahului bacaannya
Jibril ‘alaihissalam. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memperhatikan dan
mendengarkan apa yang dibacakan Jibril kepadanya. Karena Allah ‘Azza wa
Jalla telah menjanjikan kepadanya bahwa beliau akan dimudahkan dalam
menghafal dan mengamalkannya. Dan Allah ‘Azza wa Jalla berjanji
memberikan penjelasan terhadap apa yang dibacakan Jibril untuknya tersebut.
Di dalam Alquran juga terdapat ayat yang menyifati manusia dengan
sifat tergesa-gesa, sehingga menyebabkan manusia itu mendoakan keburukan bagi
dirinya sendiri di saat kondisi marah sebagaimana dia mendoakan kebaikan untuk
dirinya sendiri. Yaitu yang terdapat pada surat Al-Isra’ ayat 11:
وَيَدْعُ
الإنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الإنْسَانُ عَجُولا
Artinya: “Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia
berdoa untuk kebaikan. Dan manusia itu bersifat tergesa-gesa.”
Faktor penyebab manusia melakukan hal tersebut adalah kekhawatiran,
ketergesa-gesaan, dan sedikitnya kesabaran yang
ada padanya. Atau bisa juga makna dari ayat di atas adalah manusia yang
berlebih-lebihan dalam meminta sesuatu dalam doa yang dia yakini merupakan yang
terbaik untuknya. Sedangkan pada hakikatnya hal itu adalah sebab kebinasaan dan
keburukan baginya dikarenakan kebodohannya akan keadaan yang sebenarnya. Hal
ini hanyalah terjadi karena sifat ketergesa-gesaan dan sudut pandangnya yang
sempit terhadap sesuatu.
Dalil As-Sunnah
Sesungguhnya lemahnya jiwa ketika menghadapi musibah dan ketika
harus bersabar di dalamnya, serta terburu-buru untuk segera mendapatkan
kebaikan, itu semua dapat menyebabkan seseorang tertimpa keputusasaan. Terlebih
lagi jika hal itu semua terjadi dalam jangka waktu yang lama dan beratnya ujian
yang menimpa.
Hal ini telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang
hamba akan senantiasa dikabulkan doanya oleh Allah Jalla wa ‘Ala selama
dia tidak berdoa yang mengandung kezaliman, tidak memutuskan tali silaturahmi,
dan tidak tergesa-gesa. Kemudian ada sahabat yang bertanya, “Apa yang dimaksud
tergesa-gesa di sini, wahai Rasulullah?” Lalu beliau menjawab, “Aku telah
berdoa, aku telah berdoa, tetapi mengapa aku tidak melihat tanda-tanda doaku
dikabulkan? Sehingga dia lelah dalam berdoa dan meninggalkan doanya tersebut”
(HR. Muslim)
Imam Al-Qurthubi rahimahullahu berkata, “Orang yang
berkata, ‘Aku telah berdoa, akan tetapi doaku tidak kunjung dikabulkan,’ lalu
meninggalkan doanya karena berputus asa dari rahmat Allah berupa
mengungkit-ungkitnya di hadapan Allah bahwa dia telah banyak berdoa kepada-Nya,
sejatinya adalah orang yang bodoh akan bentuk pengabulan Allah terhadap doanya
tersebut. Dia mengira bahwa bentuk pertolongan Allah kepadanya dengan diberikan
apa yang dia minta, padahal Allah mengetahui apa yang dia minta itu adalah
keburukan baginya.”
Syaikh Utsaimin rahimahullahu berkata dalam kitabnya, Syarh
Riyadhus Shalihin ketika menjelaskan hadis ini, “Tidaklah Allah Subhanahu
wa Ta’ala menghalangimu dari terkabulnya doa kecuali karena ada hikmah di
balik semua itu, atau karena adanya faktor penghalang dari terkabulnya doa
tesebut. Akan tetapi, jika kamu berdoa kepada Allah, maka berdoalah dengan
penuh keyakinan dan rasa harap yang besar bahwa Dia akan mengabulkan doamu
tersebut. Teruslah berdoa sampai Allah mewujudkan apa yang kamu inginkan. Dan
jika Dia belum mewujudkan apa yang kamu inginkan, maka ketahuilah bahwa Dia
menghindarkan dirimu dari banyaknya bahaya yang tidak kamu ketahui, atau doa
tersebut akan disimpan oleh-Nya untukmu di hari kiamat nanti. Maka dari itu,
janganlah kamu berputus asa dan jangan berletih dalam berdoa. Teruslah berdoa
karena doa adalah ibadah. Dan perbanyaklah doa, maka Allah akan mengabulkan
doamu. Jika belum dikabulkan, maka jangan lelah dari doamu dan janganlah kamu
berburuk sangka kepada Allah. Karena sejatinya Allah Maha Bijaksana. Allah Tabaraka
wa Ta’alaberfirman pada surat Al-Baqarah ayat 216 yang artinya, “…Boleh jadi
kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu
menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu
tidak mengetahui”.
Perkataan para ulama
ذو النون يقول:
(أربع خلال لها ثمرة: العجلة، والعجب، واللجاجة، والشره، فثمرة العجلة الندامة،
وثمرة العجب البغض، وثمرة اللجاجة الحيرة، وثمرة الشره الفاقة(
Dzun Nun (Tsauban bin Ibrahim) rahimahullahu berkata,
“Ada empat perkara buruk yang menghasilkan buah: tergesa-gesa yang buahnya
adalah penyesalan, kagum pada dirinya sendiri yang buahnya adalah kebencian,
keras kepala yang buahnya adalah kebingungan, dan rakus yang buahnya adalah
kemiskinan”.
Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, “Sifat tergesa-gesa
adalah dari setan. Sejatinya sifat tergesa-gesa juga merupakan sikap gegabah,
kurang berpikir dan berhati-hati dalam bertindak. Yang mana sifat ini
menghalangi pelakunya dari ketenangan dan kewibawaan. Dan menjadikan pelakunya
memiliki sifat menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Dan mendekatkan
pelakunya kepada berbagai macam keburukan, dan menjauhkannya dari berbagai
macam kebaikan. Dia adalah temannya penyesalan. Dan katakanlah, bahwa siapa
saja yang tergesa-gesa maka dia akan menyesal”.
Faktor penyebab munculnya sifat ini
Ketergesa-gesaan dalam diri manusia muncul karena hasil dari
berkumpulnya faktor-faktor berikut ini:
Adanya salah satu pendorong dalam diri seseorang untuk mewujudkan
hal yang diinginkannya
Tidak adanya cara pandang atau pemikiran yang menyeluruh terhadap
suatu perkara
Dan faktor utama munculnya sifat yang menyebabkan manusia terjatuh
pada kesalahan ini adalah setan, musuh terbesar manusia. Dan hal ini telah
dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam
hadisnya yang diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,
bahwa beliau bersabda, “Ketenangan itu datangnya dari Allah, sedangkan
ketergesa-gesaan itu datangnya dari setan” (Hadis ini dinilai hasan oleh syekh
Al-Albani dalam kitabnyaShahihul Jaami’)
Itulah beberapa celaan dan peringatan terhadap salah satu sifat
tercela ini, yang terdapat di dalam Alquran, hadis, dan juga perkataan para
ulama. Sebenarnya masih banyak lagi celaan dan peringatan terhadapnya, baik itu
dari Alquran, hadis, maupun perkataan salaf saleh yang tidak bisa disebutkan
secara keseluruhan.
Dan setelah kita mengetahui tentang tercelanya sifat ini dan
buruknya dampak yang diakibatkan dari sifat ini, maka hendaknya kita sebagai
seorang muslim yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya untuk menjauhi sifat
tersebut dan berusaha semaksimal mungkin untuk berakhlak sebagaimana Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam berakhlak. Dan jadikanlah beliau adalah satu-satunya
manusia di muka bumi ini yang kita jadikan contoh dan teladan dalam segala aspek
kehidupan tanpa terkecuali.
Semoga Allah Jalla wa ‘Ala mengumpulkan kita dengan
beliau kelak di surga-Nya nanti. Amin.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Referensi
Ar ruuh, Ibnul Qoyyim al Jauziyyah
Qowa’id muhimmah fil amri bil ma’ruf wan nahyi ‘anil munkar ‘ala
dhouil kitaabi was sunnah, Dr. hamud bin Ahmad ar Ruhaili
Aisaarut Tafaasiir, As’ad humidi
Manhajir Rasuul fii Tashiihil Akhto’, Ali bin Nayif asy
Syahuud
Mausu’atul akhlakil islamiyyah,
Syarh riyadhus Sholihin, Syaikh Sholih al ‘Utsaimin
—
Penulis: Winning Son Ashari
Murajaah: Ust. Suhuf Subhan, M.Pd.I
Artikel Muslim.Or.Id

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
"Bicara Yang Baik atau Diam"