Minggu, 18 Oktober 2015

Hadts Arbain 1 (Niat Bag. 2)

SYARH HADITS
 عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ …/
“... dari Amirul Mukminin ..”
Gelar Amirul Mukminin :
        · secara umum : adalah gelar yang pertama kali disandarkan kepada shahabat Abdullah bin Jahsy t-[1]seorang shahabat yang pernah memimpin Sariyah[2] sebelum terjadinya perang Badar
        ·  secara khusus : untuk khalifah adalah pertama kali diberikan pada Umar bin Khattab t .Penamaan ini  disebutkan pada akhir kekhalifaan Abu Bakart dan menjadikan gelar Amirul  Mukminin sebagai pengganti bagi gelar khalifah [3]
      
t  أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ  /
" …Abu Hafs Umar bin Khaththab t "
      Kunniyah Umar bin Khaththab t adalah Abu Hafsh, dan arti dari kata "Hafsh" adalah anak singa
·         Ini menunjukkan bolehnya berkuniyah dengan selain nama anak, bahkan tidak mesti harus punya anak, sebagaimana Aisyah radhiyallohu anha yang berkuniyah dengan Ummu Abdillah dan Imam Nawawi berkuniyah Abu Zakariya, padahal beliau belum pernah menikah.
·         Berkuniyah adalah sesuatu yang disunnahkan, sehingga Rosulullah r telah memberikan kuniyah seorang anak kecil,sebagaimana hadits Rosulullah  r dari Anas bin Malik t ,beliau berkata :
كَانَ النَّبِيُّ r أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا وَكَانَ لِي أَخٌ يُقَالُ لَهُ أَبُو عُمَيْرٍ قَالَ أَحْسِبُهُ فَطِيمًا وَكَانَ إِذَا جَاءَ قَالَ:]يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ[
Nabi r adalah orang yang paling baik akhlaqnya.Aku mempunyai seorang adik yang baru lepas susuan yang dipanggil  Abu Umair. Apabila Rosulullahr  datang, beliau bergurau sambil berkata: Ya Abu Umair, apa yang dikerjakan oleh nughair( burung kecil itu kepunyaan Abu Umair). (Muttafaq ‘alaihi)

r  سَمِعْتُ  رَسُولَ اللهِ  /
“ ..saya mendengar.Rasulullah r.”
-Menunjukkan keutamaan Umar yang langsung mendengarnya dari Rasulullah r. Dan inilah keutamaan shahabat secara umum, yaitu bertemu langsung dengan Rosulullah  r
Abdullah bin Mas’ud t mengatakan :
“(Para sahabat) adalah manusia  yang Allah I pilih  untuk menemani nabi-Nya” [4]

 إِنَّمَا الأَعْمالُ   /
“... sesungguhnya amal..”
  إنَّ(sesungguhnya) è fungsinya untuk menashob ( --َ-- )
  ما    +    إن ( hanya saja) , è fungsinya adalah untuk merafa’ ( --ُ-- )
Dalam Al-Quran ada beberapa bentuk     إِنَّمَا   : 
                  1)  Penafian secara mutlaq,Allah U berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ ﴾ ﴿
 Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu hanyalah Tuhan Yang Esa...".(QS.Al Kahfi:110)
 Maksudnya ayat ini adalah hanya Allah yang berhak disembah, selain-Nya bathil.
                  2)  Penafian secara partial (sebagian) :
إِنَّمَا أَنْتَ مُذَ كِّر﴾ ﴿
Sesungguhnya kamu Muhammad  hanyalah  pemberi peringatan (QS.Al Ghasyiyah:21)
Penafian di sini  tidaklah secara mutlak karena kenyataannya Nabi Muhammad r  juga bertugas untuk memberi kabar gembira, dll. Namun disebutkan  dalam ayat ini   hanya sebagai pemberi peringatan maksudnya beliau  tidak berkuasa memberikan hidayah kepada seseorang
                  3)  Penafian yang menunjukkan pentingnya/umumnya hal tersebut
Allah Y berfirman:
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ﴾ ﴿
Artinya: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan,... QS.  (Al Hadid:20)     
لَعِبٌ وَلَهْوٌ è   bukan berarti dunia itu semuanya permainan dan senda gurau tetapi hanya   disebutkan keduanya adalah karena begitulah keadaan dunia pada umumnya. Adapun dalam hadits ini merupakan penafian secara mutlak.Wallohu A'lam

بِالنِّيَاتِ“/
"dengan niat..”
Menurut Ulama,  maksudnya ada 3 :
1)      Amalan itu dipandang /dinilai ketika ada niat.
2)      Amalan itu akan lahir /muncul karena adanya niat. Maksudnya tidak mungkin sesuatu bisa dikerjakan tanpa adanya niat; karena setiap manusia yang berakal dan tidak dipaksa tidak mungkin mengamalkan sesuatu tanpa niat. Bahkan sebagian ulama berkata: "Seandainya Allah menyuruh kita mengamalkan sesuatu tanpa niat maka itu suatu perintah yang tidak sanggup dikerjakan"[5]. Makna ini sangat tepat untuk membantah orang yang senantiasa was-was dalam niatnya sehingga melafazhkannya dalam setiap ibadah!
3)       Baik atau buruknya suatu amalan sangat tergantung pada niatnya.

Perbedaan ponit 1 & 3 :
   §bahwa pada point 1 menjelaskan bahwa amalan sholeh  hanyalah diterima jika diawali dengan niat. Contoh : seseorang yang makan dengan tangan kanan hanya karena kebiasaan bukan untuk mengikuti sunnah Rasulullah r maka dia tidak diganjar dengan perbuataanya itu.
   §Point ke-3 amalan yang dikerjakan dengan niat, baru akan diterima jika niatnya baik(ikhlas) contoh sholat walaupun seseorang telah berniat untuk sholat namun tidak akan diterima jika ada niat yang tidak ikhlas (riya’)
  -------------------------------------------------------------------------------------------------
     .
Bersambung Insya Allah----------------------------

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

"Bicara Yang Baik atau Diam"